Tari Jaran Kepang atau tarian jathilan ini merupakan tradisi tari kerakyatan yang ditarikan oleh salah satu paguyuban yaitu Jaran Kepang Turonggo Sayekti Mudho di Desa Mijen. Biasanya sih, acara tersebut ditarikan pada saat peringatan hari-hari tertentu seperti halnya sedekah desa atau yang lainnya. Tarian ini termasuk tarian yang masih sakral atau kental budayanya. Tetapi, dalam tarian tersebut terdapat perbedaan dengan paguyuban yang ada disekitarnya. Seperti halnya terdapat pada isian sesaji, dan gerakan yang ditampilkan sangat beda dengan jaranan lainnya. Pada permainannya terdapat 3 babak yaitu siang sore dan malam. Tariannya pun biasa ditarikan 8-10 orang.
Dalam Jaran kepang ini biasanya ditarikan oleh remaja dewasa seputar daerah. Gerak tariannya biasanya dianggap sangat "monoton" yaitu yang geraknya begitu-gitu ajaa. Sesaji sangat penting halnya bila ada pertunjukkan tersebut. Dalam pertunjukannya selalu ada sesaji atau sajen (dalam istilah Jawa). Sesaji terdiri dari menyan, pisang setangkep, wajik, jadah, jenang, pecok bakal, buceng, air putih dan seekor ayam hidup.
Sesaji merupakan sebuah syarat yang harus dipenuhi ketika tarian ini dipentaskan. Adapun sesaji berfungsi sebagai media untuk mengundang roh halus yang akan memasuki tubuh penari ketika ndadi. Adanya media sesaji penari dapat melakukanndadi, namun dalam pementasannya tidak semua penari mengalami ndadi dikerenakan menyesuaikan kondisi penari atau kerelan tubuh penari untuk dimasuki roh halus. Hal tersebut tidak lepas dari pengawasan orang yang ahli (pawang dalam istilah Jawa) yang dinamakan gambuh.
Peran gambuh sangatlah penting yaitu dapat menyadarkan penari saat ndadi dan mengatur jalannya pementasan. Sebelum pementasan dimulai, ada ritual khusus yang dilakukan gambuh, seperti membakar kemenyan dan doa-doa (mantra) untuk leluhur. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal buruk yang terjadi saat pementasan berlangsung.
Keunikan tarian ini adalah sebelum melakukan penampilan pemain atau pengurus biasanya mempersiapkan sesaji, dalam sesaji tersebut terdapat jajan pasar, air degan, kaca (pecahan kaca) dan lainnya. Nah, hal keunikannya adalah disini tidak menggunakan ayam ingkung tetapi terdapat ayam bakar yang tidak dibumbui (ayam yang langsung dibakar). Biasanya pemain yang kesurupan memakan semua sesaji yang terdapat dimeja, tetapi ayam bakar tersebut tidak disentuh sama sekali oleh pemain. Konon katanya menurut warga sekitar bila ayam bakarnya dimakan akan menjadi mala petaka pada kampung tersebut.
Singkat cerita jaranan banyak mengandung hal-hal mistisnya katanya. Penari mengalami kesurupan, kesurupan terjadi disaat formasi penari jaran kepang yang awalnya menari dengan lembut lamakelamaan berubah jadi liar. Seperti si penari saat bermain mengalami kesurupan, memakan makanan seperti bunga, pecahan kaca, kemenyan atau sesaji, dan lainnya.

0 comments: